TOKOH WAYANG
Batara Indra
Dewa
Indra terkenal di kalangan umat Hindu dan sering disebut dalam susastra Hindu,
seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam
kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan
memimpin para dewa menghadapi kaum raksasa. Indra juga disebut dewa perang,
karena Beliau dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya
(Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh
Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici. Kendaraan Beliau adalah seekor
gajah putih yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Saci.
Dewa Indra muncul
dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor
anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.
Kadangkala
peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir
sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.
Bunga lambang kota/Provinsi
Lambang Bengkulu
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lambang Bengkulu
Lambang
Bengkulu berbentuk
perisai dengan tulisan Bengkulu. Di dalam lambang perisai, terdapat
lambang bintang, cerana, rudus (senjata), bunga Rafflesia
arnoldii, tangkai buah padi dan kopi."Kembalikan IndonesiaKu ke Indonesia"
Mari kita kobarkan kembali rasa
cinta tanah air, rela berkorban, rasa senasib sepenanggungan, semangat
persatuan dan kesatuan, dan menjadikan kemajemukan kita sebagai kekuatan.
Kembalikan
Indonesiaku
“menumbuhkan rasa memiliki yang kuat, mempelajari, menjaga, melindungi,
merawat dan memperhatikan semua warisan banga baik wilayah teritorial, budaya,
maupun semua simbol kepribadaian bangsa Indonesia”
Dalam aspek persatuan,
kita masih melihat adanya gangguan separatisme di daerah. Ada pula kesenjangan
antardaerah, antargolongan, serta antara pusat dan daerah. Bentrokan
antargolongan masih terjadi, terutama dengan adanya kelompok-kelompok anarkis
yang melakukan tindakan kekerasan dan teror terhadap masyarakat. Belum lagi
peperangan antargeng dan antargolongan yang kembali merebak.
Gangguan terhadap kedaulatan wilayah kita masih terasa. Banyak intrusi yang
dilakukan negara asing terhadap wilayah perairan dan perbatasan. Berkurangnya
luas wilayah nasional akibat berpindahnya tapal batas wilayah kita di
Kalimantan serta pelanggaran udara dan laut RI oleh pesawat udara dan kapal
perang terutama kapal selam asing yang bahkan tidak pernah kita ketahui adanya,
adalah contoh kurangnya kemampuan dan kekuatan laut dan udara kita dalam
mengendalikan dan menjaga kedaulatan RI.
Lebih dari itu, bangsa Indonesia saat ini tercabut dari akarnya. Wawasan
kebangsaan yang bersumber dari landasan Pancasila tidak lagi menjadi falsafah
kehidupan. Bahkan, kita sudah tidak lagi paham landasan kebangsaan kita, yaitu
kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat karena batang tubuh konstitusi kita sudah
disimpangkan dari Pembukaan UUD 45 yang merupakan sumber dari segala sumber
hukum.
Kontemplasi dan perenungan ini sesungguhnya bukanlah untuk menyanggah segala
keberhasilan, tetapi lebih sebagai upaya untuk menyadarkan kita semua bahwa
masih sangat banyak kekurangan yang perlu kita perbaiki.
Pasti bukan kebetulan 17 Agustus 2012 yang akan kita rayakan beberapa hari lagi
bertepatan jatuh pada hari Jumat bulan Ramadan 1433 H, persis sama dengan 17
Agustus 1945 yang juga jatuh pada hari Jumat bulan Ramadan 1364 H. Ini menjadi
peringatan kepada kita semua untuk kembali berjuang, mengembalikan
keindonesiaan kita dengan memperbaiki pola pikir, pola sikap, dan pola tindak.
Indonesia harus kita kembalikan kepada haluannya yang benar, sesuai cita-cita
pembentukannya, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Mari kita kobarkan kembali rasa cinta tanah air, rela berkorban, rasa senasib
sepenanggungan, semangat persatuan dan kesatuan, dan menjadikan kemajemukan
kita sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika dan Merah Putih harus kembali kita
junjung tinggi dan kita kibarkan. Dengan kata lain, mari kita kembalikan Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-67, hiduplah Indonesia raya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar