Pendahuluan
infrastruktur fisik dan sosial
adalah dapat didefinisikan sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian
sistem struktur yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor
privaat sebagai layanan dan
fasilitas yang diperlukan agar perekonomian dapat berfungsi dengan baik.
Istilah ini umumnya merujuk kepada hal infrastruktur teknis
atau fisik yang mendukung jaringan struktur seperti fasilitas antara lain dapat
berupa jalan, kereta api, air bersih, bandara, kanal, waduk, tanggul,
pengelolahan limbah, perlistrikan, telekomunikasi, pelabuhan secara fungsional,
infrastruktur selain fasilitasi akan tetapi dapat pula mendukung kelancaran
aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi aliran produksi barang dan jasa
sebagai contoh bahwa jalan dapat melancarkantransportasi pengiriman bahan baku
sampai ke pabrik kemudian untuk distribusi ke pasar hingga sampai kepada
masyarakat.
Proyek Kerjasama adalah
penyediaan infrastruktur yang dilakukan melalui perjanjian kerjasama atau
pemberian izin pengusahaan antara Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dengan
badan usaha. Badan usaha adalah badan usaha swasta berbentuk PT, BUMN/BUMD, dan Koperasi. Dalam pelaksanaan proyek kerjasama, Menteri/Kepala
Lembaga/Kepala Daerah bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerjasama
(PJPK). Apabila dalam perundang-undangan diatur bahwa suatu sektor
infrastruktur, penyediaan infrastruktur
oleh pemerintah diselenggarakan atau dilaksanakan oleh BUMN/BUMD, maka
BUMN/BUMD tersebut yang akan bertindak selaku PJPK .
Berikut ini
contoh kerja sama pemerintah dan swasta :
Pintu keluar Cisalak di Jalan Tol Cijago.
| |
Panjang
| |
Pembangunan
|
2011-2012
|
Pengelola
|
PT Translingkar Kita Jay
|
Jalan Tol Cijago (kependekan dari
jalan tol Cinere-Jagorawi) adalah jalan tol yang diresmikan tanggal 27
Januari2012 lalu. Panjang jalan tol ini adalah 3,7 kilometer. Nantinya, tol
Cijago ini akan berujung sampai ke Cinere, Depokdan bus kota dan jarak jauh
atau menengah dari Terminal Depok akan melintasi jalan tol Jagorawi tanpa
melewati Lenteng Agung dan Pasar Minggu. Ruas yang beroperasi hanya ruas
Cisalak - Jagorawi yang diresmikan tahun 2012 lalu. Sedangkan ruas Cinere - Cisalak akan di bangun dalam waktu dekat. Jalan tol ini
merupakan bagian dari Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2.
Pembangunan Jalan Tol Cinere – Jagorawi membutuhkan dana
sebesar Rp. 2,4 Trilyun .
Pembangunan Jalan Tol Cinere – Jagorawi terbagi menjadi 3
(tiga) seksi. Seksi I (Jagorawi – Raya Bogor) sepanjang 3,70 km telah selesai
pembangunannya dan telah beroperasi sejak tanggal 27 Januari 2012.
PT Translingkar Kita Jaya akan memulai pembangunan Seksi II
(Raya Bogor – Kukusan) sepanjang 5,50 Km dan diharapkan Seksi III (Kukusan –
Cinere) sepanjang 5,44 Km juga dapat segera dimulai pembangunannya, sehingga
seluruh Jalan Tol Cinere-Jagorawi dapat beroperasi pada tahun 2016. Dalam
rangka percepatan pembangunan Jalan Tol Cinere-Jagorawi, PT Translingkar Kita
Jaya melakukan upaya percepatan dengan mulai membangun Seksi II (Raya
Bogor-Kukusan) meskipun pengadaan tanah untuk Seksi ini belum selesai 100%.
Tanah yang dibutuhkan untuk pelaksanaan konstruksi Seksi II seluas + 53,02 Ha
dan telah dibebaskan seluas + 46,17 Ha (87,08%).
Sisa tanah yang belum dibebaskan saat ini dalam proses
penyelesaian baik melalui musyawarah maupun konsinyasi dan diharapkan dapat
diselesaikan pada pertengahan tahun 2014. Pembangunan Jalan Tol Cinere-Jagorawi
Seksi II seluruhnya berlokasi di wilayah Kota Depok, Jawa Barat dan dibangun
menggunakan konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) dengan jumlah lajur 2 x
3 lajur serta didesain dengan kecepatan rencana 100 km/jam. Pelaksanaan
konstruksi direncanakan selesai pada bulan Februari 2015 dengan kontraktor PT
Hutama Karya.
Refrensi : http://www.tempo.co/topik/masalah/786/pembangunan-jalan-tol
